Barter Mitratel, Telkom Dinilai Rugikan Negara

Barter Mitratel, Telkom Dinilai Rugikan Negara - Lantaran melakukan tukar guling anak usahanya PT. Dayamitra Telekomunikasi ( mitratel ) ke tower bersama Infrastucture ( TBIG ) yang pada beberapa waktu lalu mendapatkan banyak protes dari beberapa pihak. Direktur Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk transparansi anggaran ( FITRA ), Uchok Sky Khadafi berpendapat kalau apa yang dilakukan oleh Telkom sangat merugikan keuangan Negara.
 
Bahkan dalam wawancaranya kepada blog katokpe, Direktur Investigasi dan Advokasi tersebut mengatakan kalau tak seharusnya Telkom menjual saham perusahaan yang menguntungkan, sebaiknya aset yang harus dijual adalah perusahaan yang merugi saja, Mitratel merupakan sebuah perusahaan ynag dinilai memiliki prospek yang bagus kedepannya, akan tetapi kenapa dipaksakaan untuk dijual. Selain itu juga, uchok selaku Direktur Investigasi dan Advokasi juga membeberkan kenapa transaksi tersebut sangat merugikan bangsa Indonesia.
 

Kerugian yang didapat dari Barter Mitratel

1. Pembayaran bukan tunai
TBIG membayar Telkom dengan menerbitkan saham baru senilai Rp. 7972 persahamnya, nah itu berarti Telkom akan beresiko menderita kerugian bila harga saham jatuh dibawah Rp. 7972 sebab mengingat harga saham yang naik turun, tidak ada seorangpun yang mampu menjamin jika saham turun, jadi hal ini sangat beresiko sekali.

Barter Mitratel, Telkom Dinilai Rugikan Negara
Barter Mitratel
2. Harga yang terlalu murah
Telkom menjual Mitratel dengan dengan harga rata-rata permenara sebesar Rp. 1.2 miliar. Dan hampir bersamaan XL Axiata yang menjadi pesaing berat telkomsel menjual 3500 menara ke PT Solusi tunas Pratama Tbk dengan harga Rp. 5.6 trilliun dan dalam bentuk tunai. Itu berarti kalau XL berhasil mendapatkan harga Rp. 1.6 miliar permenara. Selisih harga 400 juta permenara dari Telkomsel.
 
3. Kehilangan kendali
Barter Mitratel, Telkom Dinilai Rugikan Negara dengan menjual saham 49 persen dari saham disertai dengan persetujuan dari Telkom utnuk melepas kendali menejemen ke TBIG, padahal telkomsel sendiri masih memiliki saham 51 persen dimana jumlah tersebut masih menjadi pemegang saham terbesar. Karena hal tersebut membuat posisi Telkom dalam sewa-menyewa menara telekomunikasi menjadi sangat lemah. Hal tersebut sangatlah tidak tepat kalau direksi Telkom menganggap jika penjualan yang dilakukan sebagai bentuk kerja sama yang strategis dengan TBIG.

Baca juga informasi terupdate lainnya seperti Datang ke Indonesia, Mark Zuckerberg Kunjungi Borobudur

Entri Terbaru

Statistik

Jangan Lupa di Like Ya Sobat

×

Google+ Badge